Kuliah oleh Bapak Marsigit
Kamis, 7 April 2011 di ruang 204
Manusia memiliki keingintahuan tinggi akan semua yang ada di bumi ini. Dia akan selalu berpikir dan berpikir, berusaha mengenali bumi ini melalui pikirannya. Dalam berpikir, dia berusaha melakukan reduksi agar bisa menjangkau semua objek yang ada di bumi ini. Sehingga timbullah abstraksi yang dilakukan oleh manusia. Hasil dari abstraksi itulah yang nantinya digunakan untuk menterjemahkan bumi.
Objek berpikir manusia terbagi atas objek yang berada dalam pikiran dan objek yang berada di luar pikiran. Objek-objek itu jika berada dalam ruang dan waktu tertentu akan menjadi sebuah potensi dan akhirnya bisa memunculkan fakta. Misalnya saat kita memikirkan bumi, kita akan mereduksinya menjadi sebuah titik. Lalu dengan kesadaran kita, titik akan memiliki makna sehingga dia bisa mewakili sesuatu. Titik bisa kita jadikan perwakilan dari suatu desa. Titik bisa mewakili suatu kota. Titik bisa mewakili suatu negara. Bahkan titik bisa mewakili bumi ini. Banyak hal yang bisa dimaknai oleh sebuah titik. Sehingga titik bisa menjadi potensi yang bisa dikembangkan menjadi sebuah fakta.
Fakta itu akan kita dapat, jika kita menambah abstraksi pada objek itu. Dengan abstraksi itu, objek akan menjadi suatu hal baru lagi. Misalnya pada kasus titik tadi, kita mengabstraksi titik itu sehingga akan menjadi lingkaran. Bisa juga titik itu menjadi segitiga. Titik menjadi persegi,belah ketupat,kubus,limas ataupun bola. Titik juga bisa menjadi spiral.
Titik-titik yang ada di spiral itu, kita analogikan adalah semua yang ada di bumi dan bumi itu sendiri. Jadi bumi dan segala isinya, kita terjemahkan dengan analogi-analogi. Hal ini dilakukan agar kita lebih mudah memahaminya. Konsep-konsep yang ada di pikiran kita tentunya hanyalah setengah dari dunia. Masih ada setengah dunia lainnya yaitu fakta-fakta yang ada di dunia ini.
Saat kita belajar matematika lebih khususnya statistika, kita mengenal kurva normal. Kurva itu sebenarnya dalah hasil pemikiran kita dan merupakan objek dalam pikiran kita. Dia bukan sesuatu yang ada secara fisik. Namun, sebenarnya kita dapat menterjemahkan kurva tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan dekat dengan kehidupan nyata kita. Kita analogikan semua fenomena yang ada dalam masyarakat dengan penjelasan-penjelasan dalam kurva normal tersebut. Jika dalam kurva normal, kita mengenal garis x=0 adalah garis tengah dari kurva itu, di dalam kehidupan nyata kita dapat menterjemahkannya menjadi kumpulan orang-orang yang bahagia dan hidup normal. Mereka berusaha menjauhi hal-hal yang menyimpang dari adat istiadat dan norma. Selain itu, ada daerah yang berada di luar batas toleransi atau daerah penyimpangan. Dalam masyarakat, itu adalah kumpulan masalah-masalah yang ada. Orang-orang yang berbeda dengan yang lainnya. Orang yang tidak mengikuti kebiasaan yang ada. Jika dalam kurva kita mengenal ada tanda keputusan, maka dalam masyarakat ada ruwatan. Ruwatan adalah kegiatan mengarahkan kembali orang-orang yang bermasalah dalam masyarakat tadi agar menjadi yang semestinya. Ruwatan itu tidak perlu dengan upacara adat seperti dulu, namun lebih ditekankan pada pemberian penjelasan kepada orang bermasalah itu.
Inilah salah satu cara belajar filsafat. Kita menganalogikan dunia dengan konsep yang kita miliki dalam pikiran kita. Belajar filsafat itu bukan hanya melulu pada teori, namun juga perlu memahami penjelasan. Kita harus bisa memberikan penjelasan agar filsafat bisa dimengerti dengan baik.
Menurut Kant, dalam pikiran kita ada empat kategori berpikir yaitu berpikir kualitatif, kuantitatif, kategori dan relasi. Keempatnya dibutuhkan manusia dalam menganalisis suatu ahl agar bisa menghasilkan keputusan atau hasil yang sempurna. Dalam pikiran manusia, ada dua hal yang sangat berpengaruh pada pola pikir kita yaitu logika dan pengalaman. Dengan logika yang kita miliki,kita akan memiliki idealisasi akan suatu hal, namun di satu sisi dengan adanya pengalaman, kita bisa berpikir realistis juga. Sehingga akan ada keseimbangan pada pikiran kita. Oleh sebab itu, kita harus bepikir secara sintetik apriori.
Dunia ini masih dipenuhi dengan mitos, sehingga perlulah kita terus belajar menterjemahkan dan siap untuk diterjemahkan. Belajar mendapatkan penjelasan agar kita dapat memperoleh logos. Dengan logos itulah kita bisa menghilangkan mitos yang membelenggu pola pikir kita. Dengan logos itulah, kita berusaha menghilangkan otoritas atau dogma yang berkembang di masyarakat kita. Mari kita tingkatkan sikap kritis,ingin tahu dan sering-sering melakukan refleksi diri agar bisa mempelajari filsafat dengan baik. Jangan lupa selalulah berdoa.
written by
Amalia Annisa
08301241031
No comments:
Post a Comment