Kuliah oleh Bapak Marsigit
Selama kuliah filsafat satu semester ini, banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan. Saya tidak hanya belajar ilmu filsafat, namun juga belajar tentang sopan santun dan sikap dalam berfilsafat. Awalnya terasa berat membaca elegi dan memahaminya. Namun lama-lama, ada suatu kenyamanan tersendiri mempelajarinya. Yang saya tangkap, di perkuliahan ini bukan hanya menekankan pada materi filsafat saja, namun diberi dulu bekal rohani agar kita tidak menyimpang. Selain itu di sini kita diuji untuk bisa bersikap bijaksana. Kita belajar menjadi orang rajin, ikhlas dan juga cermat. Karena lewat komentar itu, nantinya akan terlihat siapa yang benar-benar mau belajar dan siapa yang hanya mengejar kuantitas komentar.
Selama ini yang sering menjadi permasalahan adalah mengenai kualitas komentar kita. Sering kita berkomentar,namun kurang memikirkan konteks komentar kita, kurang memperhatikan apakh sesuai dengan tema yang dibahas, kurang memperhatikan tata bahasa sehingga akhirnya kita sering mempost komentar yang tidak pas dan jauh dari pemikiran kita. Akibatnya tidak semua orang bisa mencerna komentar kita. Di sinilah perlunya kita berpikir kembali dan benar-benar harus mempertimbangkan apa yang akan kita sampaikan di komentar itu.
Sebenarnya komentar kita itu adalah filsafat kita,jadi perlu kita pahami benar semua perkataan kita. Karena berfilsafat itu tidak sekedar berbicara, maka kita perlu memperhatikan beberapa hal. Di antaranya kita harus tahu bahwa berfilsafat itu membicarakan tentang hakekat. Jadi saat kita berkomentar, kita perlu menjelaskan inti atau makna dari elegi tersebut. Berbicara hakekat tentunya perlu referensi-referensi. Dan tidak salahnya kita mempelajarai komentar sebelum kita, siapa tahu bisa memunculkan ide-ide berfilsafat kita. Selain itu, kita harus mempehatikan atitude kita. Saat berfilsafat,kita harus bersikap sopan dengan mengetahui keberadaan kita. Ingat! Kita terikat dengan ruang dan waktu tertentu dan pastinya kita tidak bisa seenaknya menerjang aturan-aturan yang ada dalam kondisi itu. Kita juga dibatasi oleh kepentingan dan pendapat orang lain. Namun sering tanpa sadar kita sombong dan marah. Kita sering berbicara tidak sesuai dengan kapasitas kita. Kita juga merasa terbatasi oleh filsafat orang lain yang berbeda dengan kita. Itulah berfilsafat, kita tidak bisa bersikap adil secara sempurna. Kita hanya bisa mereduksi mana yang akan kita kerjakan, mana yang tidak. Memang kadang kita sering berbicara tidak sesuai dengan kapasitas kita, tapi bukan berarti kita salah. Kita hanya perlu sikap berani dan mau mencoba. Memang harus ada perjuangan agar perkataan dan tulisan kita lama-lama diakui oelh orang lain. Dari semua yang kita tulis ataupun ucapkan,nantinya akan memunculkan banyak pandangan dan komentar yang berbeda. Ada yang pro, namun ada juga yang kontra. Akan ada dampak dan juga resiko yang kita terima, baik itu baik ataupun buruk. Nah, yan terpenting adalah bagaimana kita memanage semua kemungkinan yang akan kita terima itu. Tidak mudah memang menerima kitik atau perbedaan pendapat dengan pihak lain. Tapi itulah yang harus kita hadapi. Jika kita mampu memanage semuanya dengan baik,akhirnya juga akan menguntungkan kita. Mungkin ada pihak yang akan menyeberang dari kita, maka kita harus lapang dada menerimanya. Itulah nikmatnya berilsafat. Memang tidak ada yang benar dan yang salah, yang harus diperhatikan adalah bersikap sopan.
Dalam filsafat pendidikan matematika, kita banyak membahas tentang hakekat matematika sekolah yang harusnya kita kembangkan. Objek dari matematika realistik adalah untaian atau proses dari pembelajaran matematika itu sendiri. Di sini juga lebih menekankan pada konstruksi selama pembelajaran. Dengan belajar filsafat pendidikan matematika ini, petutnya kita bisa menerapkannya di sekolah. Karena filsfat ini,meliputi beberapa aspek seperti pembuatan RPP dan juga penciptaan pembelajaran yang inovatif dan menarik. Tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah bukanlah siswa dengan kemampuan menghafal rumus matematika, bukan pula siswa yang paham matematika yang diberikan oleh gurunya. Namun hakikinya, bisa mencapai keadaan bahwa siswa itu sendiri sebagai matematika. Peneliti matematika bukanlah melulu orang yang sudah belajar matematika sampai tingkat atas dan dia memahami semuanya. Anak kecil pun bisa disebut researcher, namun memang terbatas di dimensinya dan di dunianya.
Selama satu semester ini,saya belajar banyak akan filsafat pendidikan matematika dengan berbagai fasilitas yang diberikan. Saya mengucapkan terima kasih dna mohon maaf jika selama belajar ini masih belum bisa berfilsafat dengan baik. Inilah proses saya dan saya berharap selalu ada perbaikan dari waktu ke waktu. Mohon bimbingannya..
Monday, 30 May 2011
Wednesday, 25 May 2011
Keanekaragaman Dunia
(kuliah oleh Bapak Marsigit)
19052011
Dunia ini berisi dengan hal yang berpasangan. Tidak dipungkiri semua hal yang ada pasti memiliki pasangan ataupun lawannya. Ada laki-laki, dan ada perempuan. Ada besar,ada kecil. Ada gelap, ada terang. Begitu juga jika kita membahas mengenai filsafat. Akan kita temukan banyak hal yang berkebalikan. Dari segi ontologi, kita kenal ada-tidak ada, intensif-tidak intensif, ekstensif-tidak ekstensif. Dalam epistimologi, kita mengetahui ada sumber-tidak ada sumber dan juga benar-salah. Sedang secara aksiologi, kita belajar tentang baik-tidak baik serta etik-tidak etik. Selain itu, jika ketiga aspek itu digabungkan, kita juga akan mengetahui pasangan-pasangan yang ada dalam dunia filsafat seperti vital-fatal,subjek-predikat,bejo-ciloko,logos-mitos, subjektif-objektif dan yang lalu-sekarang-masa mendatang. Apa yang disebutkan di atas merupakan hal-hal yang sering kita lakukan,rasakan dan temukan dalam kehidupan kita.
Hal itu ternyata juga kita temukan di dalam filsafat. Mengapa bisa? Karena dunia ini sebenarnya adalah filsafat. Dan filsafat merupakan pikiranku. Oleh sebab itu filsafat itu kontekstual, alami tergantung dari pikiran kita. Selain itu, filsafat juga bersifat komunikatif karena kita berusaha mengungkapkan filsafat kita. Di satu sisi, filsafat juga saling memahami, karena di sini kita belajar menerima dan mempelajari filsafat orang lain yang berbeda dengan pandangan kita. Karena filsafat sungguh beranekaragam dan subjektif, tentunya kita harus mampu mengembangkan filsafat kita.
Dalam pendidikan matematika, kita juga belajar mengenai filsafatnya. Kita tidak bisa melulu berpatokan pada filsafat pendidikan matematika saja, namun kita juga perlu menggabungkannya dengan filsafat umum agar kita bisa menyeimbangkan semua aspek. Dengan penggabungan itu akhirnya akan terbentuk penerapan dari filsafat. Penerapan itu ada dalam pikiran kita.
Filsafat tentunya membuat kita berpandangan berbeda akan hubungan masa lalu,sekarang dan masa depan. Sebagian dari kita menyakini bahwa masa sekarang dan masa depan itu sangat dipengaruhi oleh masa lalu, namun tidak sedikit orang yaitu kaum foundationalism menganggap masa lalu tidaklah penting.
Kadang kita juga sering bertanya-tanya tentang perbedaan dari vital dan fatal. Tapi sejujurnya dalam pikiran kitapun, kita tidak dapat membedakan fatal dan vital secara pasti. Keduanya hanya bisa kita jalani, kita mengerti dan kita beri contoh dan dengan menjalaninya itu akhirnya kita akan mengerti apa itu fatal dan mana yang vital. Keduanya hanya dibatasi oleh pikiran kita. Filsafat tidak lepas dari pengada,ada dan mengada. Ada adalah orang yang berusaha,sedang pengada adalah produk dari usaha mengadakan dan mengada adalah usaha untuk mengadakan dari si ada. Maka, perlulah kita menggabungkan fatal dan vital sebagai usaha kita untuk mencapai ap ayang kita inginkan.
Berlanjut ke pembahasan bagaimana kita kadang bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak ketahui. Mungkin orang lain tidak akan percaya dengan kita, namun itulah kenyataannya. Kita ternyata harus bisa melakukan interaksi yang baik dengan alam dan doa dalam bentuk normatif, formal, material dan spiritual sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Ternyata ada beberapa pengalaman yang seharusnya tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain. Jadi seperti rahasia yang memang tak perlu diungkap penjelasannya. Jika kita ceritakan maka akan membuat hal itu bukan lagi menjadi pengalaman kita namun hanya sekedar cerita.
Agama dan budaya adalah pembicaraan yang selalu saja menarik untuk diikuti. Agama selalu dihubungkan dengan budaya karena agama merupakan penghubung kita dengan Tuhan, dan juga mengajari kita bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia. Dengan pedoman itulah,kita dapat mengembangkan budaya. Budaya yang digunakan sebagai penghubung komunikasi antar manusia dan juga sebagai penghantar ajaran-ajaran agama. Tapi bagi orang kafir, budaya dijadikan sebagai alat untuk mencari agama, lalu lama-lama mereka membuat perubahan-perubahan prinsip yang tidak masuk akal. Itulah orang yang hanya berpikirkan secara parsial dan tidak memahami separu dunia yang lain.
Hidup kadang tidak semulus yang kita harapkan. Manusia sering mengalami permasalahan yang kadang membuat kita bingung, dan akhirnya memunculkan solusi yang tidak sesuai dengan nurani kita. Kita menjadi serba salah dengan semua yang kita tentukan itu. Inilah salah satu tanda bahwa kita belum mampu sopan dengan ruang waktu. Dan ini juga merupakan salah satu contoh penyakit masyarakat. Banyak penyakit masyarakat dari berbagai dimensi komunikasi. Misalnya dalam segi spiritual adalah orang yang bermasalah dengan doa. Di konteks formal misalnya orang yang memiliki track record tidak bagus. Sedang untuk dimensi normatif, dia bermasalah dengan unggah ungguhnya yang tidak sesuai dengan masyarakat setempat.
Hidup, memang kadang tidak seindah yang kita inginkan. Kita ingin selalu mendapat keberuntungan. Pertanyaannya kapan sih orang disebut beruntung? Ini pertanyaan yang amat subjektif. Tidak ada yang bisa memberikan kualifikasi tertentu. Setiap orang menggelar dimensi tersendiri mengenai keberuntungannya. Beruntung menurut orang biasa dengan menurut manusia biasa berbeda. Begitu juga menurut orang suci dan nabi juga berbeda.
Ternyata banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini. Apa yang di pikiran kita ternyata belum mampu menjelaskan semua yang ada di dunia ini. Dunia yang penuh dengan bermacam-macam hal yang saling berpasangan. Tidak mudah memang menjadi orang yang tahu, namun tidak baik juga jika kita menjadi orang yang tidak peduli. Yang terpenting adalah mau belajar tentang dunia yang penuh dengan keberagaman ini.
19052011
Dunia ini berisi dengan hal yang berpasangan. Tidak dipungkiri semua hal yang ada pasti memiliki pasangan ataupun lawannya. Ada laki-laki, dan ada perempuan. Ada besar,ada kecil. Ada gelap, ada terang. Begitu juga jika kita membahas mengenai filsafat. Akan kita temukan banyak hal yang berkebalikan. Dari segi ontologi, kita kenal ada-tidak ada, intensif-tidak intensif, ekstensif-tidak ekstensif. Dalam epistimologi, kita mengetahui ada sumber-tidak ada sumber dan juga benar-salah. Sedang secara aksiologi, kita belajar tentang baik-tidak baik serta etik-tidak etik. Selain itu, jika ketiga aspek itu digabungkan, kita juga akan mengetahui pasangan-pasangan yang ada dalam dunia filsafat seperti vital-fatal,subjek-predikat,bejo-ciloko,logos-mitos, subjektif-objektif dan yang lalu-sekarang-masa mendatang. Apa yang disebutkan di atas merupakan hal-hal yang sering kita lakukan,rasakan dan temukan dalam kehidupan kita.
Hal itu ternyata juga kita temukan di dalam filsafat. Mengapa bisa? Karena dunia ini sebenarnya adalah filsafat. Dan filsafat merupakan pikiranku. Oleh sebab itu filsafat itu kontekstual, alami tergantung dari pikiran kita. Selain itu, filsafat juga bersifat komunikatif karena kita berusaha mengungkapkan filsafat kita. Di satu sisi, filsafat juga saling memahami, karena di sini kita belajar menerima dan mempelajari filsafat orang lain yang berbeda dengan pandangan kita. Karena filsafat sungguh beranekaragam dan subjektif, tentunya kita harus mampu mengembangkan filsafat kita.
Dalam pendidikan matematika, kita juga belajar mengenai filsafatnya. Kita tidak bisa melulu berpatokan pada filsafat pendidikan matematika saja, namun kita juga perlu menggabungkannya dengan filsafat umum agar kita bisa menyeimbangkan semua aspek. Dengan penggabungan itu akhirnya akan terbentuk penerapan dari filsafat. Penerapan itu ada dalam pikiran kita.
Filsafat tentunya membuat kita berpandangan berbeda akan hubungan masa lalu,sekarang dan masa depan. Sebagian dari kita menyakini bahwa masa sekarang dan masa depan itu sangat dipengaruhi oleh masa lalu, namun tidak sedikit orang yaitu kaum foundationalism menganggap masa lalu tidaklah penting.
Kadang kita juga sering bertanya-tanya tentang perbedaan dari vital dan fatal. Tapi sejujurnya dalam pikiran kitapun, kita tidak dapat membedakan fatal dan vital secara pasti. Keduanya hanya bisa kita jalani, kita mengerti dan kita beri contoh dan dengan menjalaninya itu akhirnya kita akan mengerti apa itu fatal dan mana yang vital. Keduanya hanya dibatasi oleh pikiran kita. Filsafat tidak lepas dari pengada,ada dan mengada. Ada adalah orang yang berusaha,sedang pengada adalah produk dari usaha mengadakan dan mengada adalah usaha untuk mengadakan dari si ada. Maka, perlulah kita menggabungkan fatal dan vital sebagai usaha kita untuk mencapai ap ayang kita inginkan.
Berlanjut ke pembahasan bagaimana kita kadang bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak ketahui. Mungkin orang lain tidak akan percaya dengan kita, namun itulah kenyataannya. Kita ternyata harus bisa melakukan interaksi yang baik dengan alam dan doa dalam bentuk normatif, formal, material dan spiritual sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Ternyata ada beberapa pengalaman yang seharusnya tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain. Jadi seperti rahasia yang memang tak perlu diungkap penjelasannya. Jika kita ceritakan maka akan membuat hal itu bukan lagi menjadi pengalaman kita namun hanya sekedar cerita.
Agama dan budaya adalah pembicaraan yang selalu saja menarik untuk diikuti. Agama selalu dihubungkan dengan budaya karena agama merupakan penghubung kita dengan Tuhan, dan juga mengajari kita bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia. Dengan pedoman itulah,kita dapat mengembangkan budaya. Budaya yang digunakan sebagai penghubung komunikasi antar manusia dan juga sebagai penghantar ajaran-ajaran agama. Tapi bagi orang kafir, budaya dijadikan sebagai alat untuk mencari agama, lalu lama-lama mereka membuat perubahan-perubahan prinsip yang tidak masuk akal. Itulah orang yang hanya berpikirkan secara parsial dan tidak memahami separu dunia yang lain.
Hidup kadang tidak semulus yang kita harapkan. Manusia sering mengalami permasalahan yang kadang membuat kita bingung, dan akhirnya memunculkan solusi yang tidak sesuai dengan nurani kita. Kita menjadi serba salah dengan semua yang kita tentukan itu. Inilah salah satu tanda bahwa kita belum mampu sopan dengan ruang waktu. Dan ini juga merupakan salah satu contoh penyakit masyarakat. Banyak penyakit masyarakat dari berbagai dimensi komunikasi. Misalnya dalam segi spiritual adalah orang yang bermasalah dengan doa. Di konteks formal misalnya orang yang memiliki track record tidak bagus. Sedang untuk dimensi normatif, dia bermasalah dengan unggah ungguhnya yang tidak sesuai dengan masyarakat setempat.
Hidup, memang kadang tidak seindah yang kita inginkan. Kita ingin selalu mendapat keberuntungan. Pertanyaannya kapan sih orang disebut beruntung? Ini pertanyaan yang amat subjektif. Tidak ada yang bisa memberikan kualifikasi tertentu. Setiap orang menggelar dimensi tersendiri mengenai keberuntungannya. Beruntung menurut orang biasa dengan menurut manusia biasa berbeda. Begitu juga menurut orang suci dan nabi juga berbeda.
Ternyata banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini. Apa yang di pikiran kita ternyata belum mampu menjelaskan semua yang ada di dunia ini. Dunia yang penuh dengan bermacam-macam hal yang saling berpasangan. Tidak mudah memang menjadi orang yang tahu, namun tidak baik juga jika kita menjadi orang yang tidak peduli. Yang terpenting adalah mau belajar tentang dunia yang penuh dengan keberagaman ini.
Monday, 9 May 2011
Filsafat dan Dunia Kita
Kuliah oleh Bapak Marsigit
Pikiran manusia selalu menelusuri semua yang perlu diketahui. Apa hakekat, bagaimana cara dan apa manfaat adalah pertanyaan yang selalu kita munculkan selama kita berpikir akan sesuatu. Ketiga hal ini ternyata memiliki hubungan. Jadi jika kita ingin mengetahui jawaban dari ketiganya, kita tidak bisa hanya menggunakannya secara parsial. Namun kita harus bisa memahami ketiganya menggunakan ketiga hal pembangun itu juga. Hal pertama yang akan kita ulas adalah ontologi. Berbicara ontologi, kita perlu memahaminya dengan mempelajari ontologinya, epistimologinya dan juga aksiologinya. Apa hakekat dari hakekat? Ternyata jawabannya adalah metafisik dan hanya Tuhanlah satu-satunya memilikinya. Seperti apa epistimologi dari ontologi? Jawabannya adalah bagaimana kita mempelajari hakekat agar kita bisa membenarkan hakekat itu. Lalu apa manfaat dari hakekat? Hakekat ternyata memiliki nilai. Oleh sebab itu, perlulah kita tahu kapan dan bagaimana seharusnya kita membicarakan hakekat agar sesuai pada tempatnya. Hakekat tentunya sesuatu yang sangat mendasar. Maka perlulah kita memahami ketiga hal pembangun hakekat itu agar kita bisa berbicara hakekat yang dapat diterima orang lain.
Hal kedua adalah epistimologi. Secara ontologi, hakekat epistimologi adalah hakekat cara. Tidak ada yang benar atau salah. Namun lebih pada kesesuaian dan estetika dari cara itu. Jadi di sini, kita belajar bagaimana memahami budaya yang ada. Bagaimana caranya epistimologi digunakan? Di sinilah kita perlu belajar metode untuk menggunakan cara dengan baik. Kita harus bisa memilih metode yang tepat untuk mengkritisi pikiran. Selain ontologi dan epistimologi, ada unsur aksiologi dari epistimologi yaitu estetikanya cara.
Unsur ketiga yaitu aksiologi. Hakekat aksiologi adalah hakekat etik dan estetika. Perbedaan budaya dapat menjadikan munculnya perbedaan pandangan akan etik atau tidaknya sesuatu. Oleh sebab itu, perlulah kita mengkaji etik dan estetika secara mendalam. Maka muncul epistimologi dari aksiologi yaitu cara belajar sumber-sumber etik estetika. Jika kita berasal dari Jawa, tentunya kita harus belajar etik estetika menurut orang Jawa itu seperti apa. Sehingga nantinya kita bisa menilai etik dari suatu hal berdasarkan budaya kita sendiri. Lalu seperti apa manfaat dari aksiologi? Hal terpenting yang dibahas dalam bagian ini adalah membicarakan etik secara etik. Ambil contoh pada pernikahan adat Jawa, kita sering menemukan ada acara ceramah dari seorang kyai untuk mempelai pengantin. Di situlah aksiologi dari aksiologi sedang dibicarakan.
Dalam kehidupan ini, pikiran kita sering tidak bisa mencapai kebenaran yang hakiki karena kebenaran itu hanyalah milik Tuhan. Kita tidak bisa mengandalkan pikiran kita dalam menemukan kebenaran itu. Karena komunikasi kepada Tuhan melalui pikiran saja tidak akan membuat kita mudah menemukanNya. Kita harus berkomunikasi dengan cara yang lebih istimewa juga. Beribadah adalah cara terampuh dan ternyaman bagi kita. Sayangnya tidak semua orang menyadari perlunya beribadah. Ada orang terdekat kita yang belum mau beribadah karena masih belum siap dan berniat beribadah sebisanya. Itu tentunya menjadi keprihatinan dan juga tanggung jawab kita untuk membantunya mau melakukan ibadah. Jujur, hal ini sangatlah sulit. Lebih dari sepuluh tahun saya berusaha membantu orang terdekat itu, baik dengan mengajak, memgajari dan juga mendoakannya sepanjang waktu selama hidup saya. Memang cukup lama namun seiring berjalannya waktu, beliau makin mau beribadah. Meski belum sempurna tapi ada perbaikan. Oleh sebab itu jangan takut untuk membantu orang lain. Tidak akan ada yang sia-sia.
Beribadah sangat membantu kita untuk mengendalikan pikiran kita. Jika ibadah kita baik, pikiran kita akan lebih tertata. Namun tidak semua dari kita memiliki kualitas beribadah yang baik. Akibatnya kita sering kurang bisa mengendalikan pikiran. Agar hal itu bisa dihindari, perlu kita banyak berdoa dan berdoa. Jika dirasa belum mampu, kita bisa mencari guru spiritual yang bisa membantu kita dalam memperbaiki ibadah dan juga pemahaman agama kita.
Beralih ke filsafat, penguasa ternyata menggunakan filsafat untuk mempengaruhi rakyatnya. Karena dia adalah penguasa, maka dia memiliki karakter sehingga akan mudah disegani oleh orang lain. Oleh sebab itu, dia dengan cepat akan menyebarkan pengaruhnya yang tentunya berdasar pada filsafat yang dia pegang. Dan rakyat atau orang lain akan dengan gampangnya menerima pengaruh itu karena mereka sudah percaya pada penguasa itu. Namun, jika penguasa memiliki karekter yang kurang inovatif, maka akan menimbulkan sikap tradisional atau otoriter. Akibatnya berpengaruh pada kualitas rakyat dan juga bangsanya. Menilik uraian di atas, maka kita bisa katakan bahwa untuk melakukan pembenahan suatu bangsa, filsafat memang memiliki peranan penting dan sangat krusial.
Sekarang kita berpindah pada filsafat wayang. Wayang merupakan aksiologi tentang ontologi, epistimologi dan juga aksiologi tersendiri. Jika kita lebih mengerucut pada salah satu bagian dari wayang yaitu dalang, dan lebih dikhususkan dalang cilik, kita dapat belajar darinya. Dalang cilik mengembangkan kemampuan mendalangnya masih terbatas. Dia memahami wayang lebih dalam ontologinya. Dia belum bisa mengembangkan cerita wayangnya secara kritis. Dia belajar mendalang dari kebiasaan dia melihat orang yang lebih tua mendalang. Kemudian dia menghafal dan melakukannya terus menerus,akibatnya dia bisa mendalang. Namun dia belum memiliki pengalaman yang banayk, sehingga belum bisa mengajarkan nilai yang diajarkan dengan baik.
Jika bicara tentang wayang, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan gending Jawa. Secara filsafat, gending Jawa berarti harmoni. Dalam gending jawa, kita mengenal beberapa alat musik tradisional Jawa yang berbeda-beda. Mereka punya peran tersendiri. Jika ada satu yang tidak ada, maka akan ada yang kurang dari gending Jawa itu. Mereka saling melengkapi. Alat-alat musik itu tentunya berfungsi dalam waktu yang berbeda-beda. Namun, semuanya terhubung secara harmonik jika dimainkan.
Filsafat dan sejarah, keduanya memiliki keterkaitan. Filsafat membicarakan dulu, sekarang dan nanti. Sedang sejarah adalah kumpulan dari masa lalu yang terekam. Maka sejarah merupakan masa lalu dari filsafat. Saat kita belajar filsafat dari para filsuf, kita sedang belajar sejarah. Berbicara tentang berfilsafat, kita tidak bisa mengabaikan ruang dan waktu. Namun, kita tidak bisa bersikap adil terhadap waktu. Kita berfilsafat, maka kita harus mengabaikan waktu lainnya seperti waktu tidur, waktu berbicara, waktu makan untuk kita gunakan sebagai waktu berfilsafat. Kita tidak melakukan kesalahan karena kita melakukannya untuk kebaikan lain yang lebih bermanfaat bagi kita.
Dalam hidup, kita sering menemukan orang-orang yang menganggap dirinya orang suci. Bahkan ada yang mengaku-aku sebagai Tuhan. Orang seperti itu adalah orang yang sudah merasa menyatu dengan Tuhan namun pikirannya masih berjalan. Akibatnya dia tidak bisa mengendalikan diri dan menjadi sombong. Dia merasa sudah menjadi orang yang apling tinggi. Oleh sebab itu, perlulah kita berusaha menjadi orang bijaksana. Agar kita tidak berpikir yang melenceng dan membahayakan. Memang tidak ada yang bisa bijaksana kecuali Tuhan dan juga utusanNya. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa bijaksana. Banyak definisi mengenai orang bijaksana. Tergantung dari ruang dan waktunya kita berbicara. Menurut orang timur, bijaksana adalah orang yang berilmu dan bisa menereapkan ilmu, rasa dan karsa ayng dai miliki. Sedang menurut orang barat, bijaksana adalah orang yang mencari ilmu. Memang tidak ada definisi pasti tentang orang bijaksana. Tapi kita bisa banyak belajar dari dua definisi itu agar bisa menjadikan diri kita orang yang lebih bijaksana.
Lalu seperti apakah orang bijaksana dalam dunia kita (dunia pendidikan)? Salah satu contoh yang nyata adalah guru yang tidak mengajarkan matematika kepada siswa, namun memfasilitasi siswa untuk mempelajari matematikanya sendiri. Siswa diberi kemerdekaan yang beraturan agar mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari.
Belajar filsafat memang tidak hanya dari buku dan teori saja. Namun banyak fenomena dan kejadian dalam dunia kita yang bisa kita jadikan bahan belajar filsafat dan bagaimana mengembangkannya.
Pikiran manusia selalu menelusuri semua yang perlu diketahui. Apa hakekat, bagaimana cara dan apa manfaat adalah pertanyaan yang selalu kita munculkan selama kita berpikir akan sesuatu. Ketiga hal ini ternyata memiliki hubungan. Jadi jika kita ingin mengetahui jawaban dari ketiganya, kita tidak bisa hanya menggunakannya secara parsial. Namun kita harus bisa memahami ketiganya menggunakan ketiga hal pembangun itu juga. Hal pertama yang akan kita ulas adalah ontologi. Berbicara ontologi, kita perlu memahaminya dengan mempelajari ontologinya, epistimologinya dan juga aksiologinya. Apa hakekat dari hakekat? Ternyata jawabannya adalah metafisik dan hanya Tuhanlah satu-satunya memilikinya. Seperti apa epistimologi dari ontologi? Jawabannya adalah bagaimana kita mempelajari hakekat agar kita bisa membenarkan hakekat itu. Lalu apa manfaat dari hakekat? Hakekat ternyata memiliki nilai. Oleh sebab itu, perlulah kita tahu kapan dan bagaimana seharusnya kita membicarakan hakekat agar sesuai pada tempatnya. Hakekat tentunya sesuatu yang sangat mendasar. Maka perlulah kita memahami ketiga hal pembangun hakekat itu agar kita bisa berbicara hakekat yang dapat diterima orang lain.
Hal kedua adalah epistimologi. Secara ontologi, hakekat epistimologi adalah hakekat cara. Tidak ada yang benar atau salah. Namun lebih pada kesesuaian dan estetika dari cara itu. Jadi di sini, kita belajar bagaimana memahami budaya yang ada. Bagaimana caranya epistimologi digunakan? Di sinilah kita perlu belajar metode untuk menggunakan cara dengan baik. Kita harus bisa memilih metode yang tepat untuk mengkritisi pikiran. Selain ontologi dan epistimologi, ada unsur aksiologi dari epistimologi yaitu estetikanya cara.
Unsur ketiga yaitu aksiologi. Hakekat aksiologi adalah hakekat etik dan estetika. Perbedaan budaya dapat menjadikan munculnya perbedaan pandangan akan etik atau tidaknya sesuatu. Oleh sebab itu, perlulah kita mengkaji etik dan estetika secara mendalam. Maka muncul epistimologi dari aksiologi yaitu cara belajar sumber-sumber etik estetika. Jika kita berasal dari Jawa, tentunya kita harus belajar etik estetika menurut orang Jawa itu seperti apa. Sehingga nantinya kita bisa menilai etik dari suatu hal berdasarkan budaya kita sendiri. Lalu seperti apa manfaat dari aksiologi? Hal terpenting yang dibahas dalam bagian ini adalah membicarakan etik secara etik. Ambil contoh pada pernikahan adat Jawa, kita sering menemukan ada acara ceramah dari seorang kyai untuk mempelai pengantin. Di situlah aksiologi dari aksiologi sedang dibicarakan.
Dalam kehidupan ini, pikiran kita sering tidak bisa mencapai kebenaran yang hakiki karena kebenaran itu hanyalah milik Tuhan. Kita tidak bisa mengandalkan pikiran kita dalam menemukan kebenaran itu. Karena komunikasi kepada Tuhan melalui pikiran saja tidak akan membuat kita mudah menemukanNya. Kita harus berkomunikasi dengan cara yang lebih istimewa juga. Beribadah adalah cara terampuh dan ternyaman bagi kita. Sayangnya tidak semua orang menyadari perlunya beribadah. Ada orang terdekat kita yang belum mau beribadah karena masih belum siap dan berniat beribadah sebisanya. Itu tentunya menjadi keprihatinan dan juga tanggung jawab kita untuk membantunya mau melakukan ibadah. Jujur, hal ini sangatlah sulit. Lebih dari sepuluh tahun saya berusaha membantu orang terdekat itu, baik dengan mengajak, memgajari dan juga mendoakannya sepanjang waktu selama hidup saya. Memang cukup lama namun seiring berjalannya waktu, beliau makin mau beribadah. Meski belum sempurna tapi ada perbaikan. Oleh sebab itu jangan takut untuk membantu orang lain. Tidak akan ada yang sia-sia.
Beribadah sangat membantu kita untuk mengendalikan pikiran kita. Jika ibadah kita baik, pikiran kita akan lebih tertata. Namun tidak semua dari kita memiliki kualitas beribadah yang baik. Akibatnya kita sering kurang bisa mengendalikan pikiran. Agar hal itu bisa dihindari, perlu kita banyak berdoa dan berdoa. Jika dirasa belum mampu, kita bisa mencari guru spiritual yang bisa membantu kita dalam memperbaiki ibadah dan juga pemahaman agama kita.
Beralih ke filsafat, penguasa ternyata menggunakan filsafat untuk mempengaruhi rakyatnya. Karena dia adalah penguasa, maka dia memiliki karakter sehingga akan mudah disegani oleh orang lain. Oleh sebab itu, dia dengan cepat akan menyebarkan pengaruhnya yang tentunya berdasar pada filsafat yang dia pegang. Dan rakyat atau orang lain akan dengan gampangnya menerima pengaruh itu karena mereka sudah percaya pada penguasa itu. Namun, jika penguasa memiliki karekter yang kurang inovatif, maka akan menimbulkan sikap tradisional atau otoriter. Akibatnya berpengaruh pada kualitas rakyat dan juga bangsanya. Menilik uraian di atas, maka kita bisa katakan bahwa untuk melakukan pembenahan suatu bangsa, filsafat memang memiliki peranan penting dan sangat krusial.
Sekarang kita berpindah pada filsafat wayang. Wayang merupakan aksiologi tentang ontologi, epistimologi dan juga aksiologi tersendiri. Jika kita lebih mengerucut pada salah satu bagian dari wayang yaitu dalang, dan lebih dikhususkan dalang cilik, kita dapat belajar darinya. Dalang cilik mengembangkan kemampuan mendalangnya masih terbatas. Dia memahami wayang lebih dalam ontologinya. Dia belum bisa mengembangkan cerita wayangnya secara kritis. Dia belajar mendalang dari kebiasaan dia melihat orang yang lebih tua mendalang. Kemudian dia menghafal dan melakukannya terus menerus,akibatnya dia bisa mendalang. Namun dia belum memiliki pengalaman yang banayk, sehingga belum bisa mengajarkan nilai yang diajarkan dengan baik.
Jika bicara tentang wayang, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan gending Jawa. Secara filsafat, gending Jawa berarti harmoni. Dalam gending jawa, kita mengenal beberapa alat musik tradisional Jawa yang berbeda-beda. Mereka punya peran tersendiri. Jika ada satu yang tidak ada, maka akan ada yang kurang dari gending Jawa itu. Mereka saling melengkapi. Alat-alat musik itu tentunya berfungsi dalam waktu yang berbeda-beda. Namun, semuanya terhubung secara harmonik jika dimainkan.
Filsafat dan sejarah, keduanya memiliki keterkaitan. Filsafat membicarakan dulu, sekarang dan nanti. Sedang sejarah adalah kumpulan dari masa lalu yang terekam. Maka sejarah merupakan masa lalu dari filsafat. Saat kita belajar filsafat dari para filsuf, kita sedang belajar sejarah. Berbicara tentang berfilsafat, kita tidak bisa mengabaikan ruang dan waktu. Namun, kita tidak bisa bersikap adil terhadap waktu. Kita berfilsafat, maka kita harus mengabaikan waktu lainnya seperti waktu tidur, waktu berbicara, waktu makan untuk kita gunakan sebagai waktu berfilsafat. Kita tidak melakukan kesalahan karena kita melakukannya untuk kebaikan lain yang lebih bermanfaat bagi kita.
Dalam hidup, kita sering menemukan orang-orang yang menganggap dirinya orang suci. Bahkan ada yang mengaku-aku sebagai Tuhan. Orang seperti itu adalah orang yang sudah merasa menyatu dengan Tuhan namun pikirannya masih berjalan. Akibatnya dia tidak bisa mengendalikan diri dan menjadi sombong. Dia merasa sudah menjadi orang yang apling tinggi. Oleh sebab itu, perlulah kita berusaha menjadi orang bijaksana. Agar kita tidak berpikir yang melenceng dan membahayakan. Memang tidak ada yang bisa bijaksana kecuali Tuhan dan juga utusanNya. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa bijaksana. Banyak definisi mengenai orang bijaksana. Tergantung dari ruang dan waktunya kita berbicara. Menurut orang timur, bijaksana adalah orang yang berilmu dan bisa menereapkan ilmu, rasa dan karsa ayng dai miliki. Sedang menurut orang barat, bijaksana adalah orang yang mencari ilmu. Memang tidak ada definisi pasti tentang orang bijaksana. Tapi kita bisa banyak belajar dari dua definisi itu agar bisa menjadikan diri kita orang yang lebih bijaksana.
Lalu seperti apakah orang bijaksana dalam dunia kita (dunia pendidikan)? Salah satu contoh yang nyata adalah guru yang tidak mengajarkan matematika kepada siswa, namun memfasilitasi siswa untuk mempelajari matematikanya sendiri. Siswa diberi kemerdekaan yang beraturan agar mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari.
Belajar filsafat memang tidak hanya dari buku dan teori saja. Namun banyak fenomena dan kejadian dalam dunia kita yang bisa kita jadikan bahan belajar filsafat dan bagaimana mengembangkannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)