Monday, 9 May 2011

Filsafat dan Dunia Kita

Kuliah oleh Bapak Marsigit
Pikiran manusia selalu menelusuri semua yang perlu diketahui. Apa hakekat, bagaimana cara dan apa manfaat adalah pertanyaan yang selalu kita munculkan selama kita berpikir akan sesuatu. Ketiga hal ini ternyata memiliki hubungan. Jadi jika kita ingin mengetahui jawaban dari ketiganya, kita tidak bisa hanya menggunakannya secara parsial. Namun kita harus bisa memahami ketiganya menggunakan ketiga hal pembangun itu juga. Hal pertama yang akan kita ulas adalah ontologi. Berbicara ontologi, kita perlu memahaminya dengan mempelajari ontologinya, epistimologinya dan juga aksiologinya. Apa hakekat dari hakekat? Ternyata jawabannya adalah metafisik dan hanya Tuhanlah satu-satunya memilikinya. Seperti apa epistimologi dari ontologi? Jawabannya adalah bagaimana kita mempelajari hakekat agar kita bisa membenarkan hakekat itu. Lalu apa manfaat dari hakekat? Hakekat ternyata memiliki nilai. Oleh sebab itu, perlulah kita tahu kapan dan bagaimana seharusnya kita membicarakan hakekat agar sesuai pada tempatnya. Hakekat tentunya sesuatu yang sangat mendasar. Maka perlulah kita memahami ketiga hal pembangun hakekat itu agar kita bisa berbicara hakekat yang dapat diterima orang lain.
Hal kedua adalah epistimologi. Secara ontologi, hakekat epistimologi adalah hakekat cara. Tidak ada yang benar atau salah. Namun lebih pada kesesuaian dan estetika dari cara itu. Jadi di sini, kita belajar bagaimana memahami budaya yang ada. Bagaimana caranya epistimologi digunakan? Di sinilah kita perlu belajar metode untuk menggunakan cara dengan baik. Kita harus bisa memilih metode yang tepat untuk mengkritisi pikiran. Selain ontologi dan epistimologi, ada unsur aksiologi dari epistimologi yaitu estetikanya cara.
Unsur ketiga yaitu aksiologi. Hakekat aksiologi adalah hakekat etik dan estetika. Perbedaan budaya dapat menjadikan munculnya perbedaan pandangan akan etik atau tidaknya sesuatu. Oleh sebab itu, perlulah kita mengkaji etik dan estetika secara mendalam. Maka muncul epistimologi dari aksiologi yaitu cara belajar sumber-sumber etik estetika. Jika kita berasal dari Jawa, tentunya kita harus belajar etik estetika menurut orang Jawa itu seperti apa. Sehingga nantinya kita bisa menilai etik dari suatu hal berdasarkan budaya kita sendiri. Lalu seperti apa manfaat dari aksiologi? Hal terpenting yang dibahas dalam bagian ini adalah membicarakan etik secara etik. Ambil contoh pada pernikahan adat Jawa, kita sering menemukan ada acara ceramah dari seorang kyai untuk mempelai pengantin. Di situlah aksiologi dari aksiologi sedang dibicarakan.
Dalam kehidupan ini, pikiran kita sering tidak bisa mencapai kebenaran yang hakiki karena kebenaran itu hanyalah milik Tuhan. Kita tidak bisa mengandalkan pikiran kita dalam menemukan kebenaran itu. Karena komunikasi kepada Tuhan melalui pikiran saja tidak akan membuat kita mudah menemukanNya. Kita harus berkomunikasi dengan cara yang lebih istimewa juga. Beribadah adalah cara terampuh dan ternyaman bagi kita. Sayangnya tidak semua orang menyadari perlunya beribadah. Ada orang terdekat kita yang belum mau beribadah karena masih belum siap dan berniat beribadah sebisanya. Itu tentunya menjadi keprihatinan dan juga tanggung jawab kita untuk membantunya mau melakukan ibadah. Jujur, hal ini sangatlah sulit. Lebih dari sepuluh tahun saya berusaha membantu orang terdekat itu, baik dengan mengajak, memgajari dan juga mendoakannya sepanjang waktu selama hidup saya. Memang cukup lama namun seiring berjalannya waktu, beliau makin mau beribadah. Meski belum sempurna tapi ada perbaikan. Oleh sebab itu jangan takut untuk membantu orang lain. Tidak akan ada yang sia-sia.
Beribadah sangat membantu kita untuk mengendalikan pikiran kita. Jika ibadah kita baik, pikiran kita akan lebih tertata. Namun tidak semua dari kita memiliki kualitas beribadah yang baik. Akibatnya kita sering kurang bisa mengendalikan pikiran. Agar hal itu bisa dihindari, perlu kita banyak berdoa dan berdoa. Jika dirasa belum mampu, kita bisa mencari guru spiritual yang bisa membantu kita dalam memperbaiki ibadah dan juga pemahaman agama kita.
Beralih ke filsafat, penguasa ternyata menggunakan filsafat untuk mempengaruhi rakyatnya. Karena dia adalah penguasa, maka dia memiliki karakter sehingga akan mudah disegani oleh orang lain. Oleh sebab itu, dia dengan cepat akan menyebarkan pengaruhnya yang tentunya berdasar pada filsafat yang dia pegang. Dan rakyat atau orang lain akan dengan gampangnya menerima pengaruh itu karena mereka sudah percaya pada penguasa itu. Namun, jika penguasa memiliki karekter yang kurang inovatif, maka akan menimbulkan sikap tradisional atau otoriter. Akibatnya berpengaruh pada kualitas rakyat dan juga bangsanya. Menilik uraian di atas, maka kita bisa katakan bahwa untuk melakukan pembenahan suatu bangsa, filsafat memang memiliki peranan penting dan sangat krusial.
Sekarang kita berpindah pada filsafat wayang. Wayang merupakan aksiologi tentang ontologi, epistimologi dan juga aksiologi tersendiri. Jika kita lebih mengerucut pada salah satu bagian dari wayang yaitu dalang, dan lebih dikhususkan dalang cilik, kita dapat belajar darinya. Dalang cilik mengembangkan kemampuan mendalangnya masih terbatas. Dia memahami wayang lebih dalam ontologinya. Dia belum bisa mengembangkan cerita wayangnya secara kritis. Dia belajar mendalang dari kebiasaan dia melihat orang yang lebih tua mendalang. Kemudian dia menghafal dan melakukannya terus menerus,akibatnya dia bisa mendalang. Namun dia belum memiliki pengalaman yang banayk, sehingga belum bisa mengajarkan nilai yang diajarkan dengan baik.
Jika bicara tentang wayang, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan gending Jawa. Secara filsafat, gending Jawa berarti harmoni. Dalam gending jawa, kita mengenal beberapa alat musik tradisional Jawa yang berbeda-beda. Mereka punya peran tersendiri. Jika ada satu yang tidak ada, maka akan ada yang kurang dari gending Jawa itu. Mereka saling melengkapi. Alat-alat musik itu tentunya berfungsi dalam waktu yang berbeda-beda. Namun, semuanya terhubung secara harmonik jika dimainkan.
Filsafat dan sejarah, keduanya memiliki keterkaitan. Filsafat membicarakan dulu, sekarang dan nanti. Sedang sejarah adalah kumpulan dari masa lalu yang terekam. Maka sejarah merupakan masa lalu dari filsafat. Saat kita belajar filsafat dari para filsuf, kita sedang belajar sejarah. Berbicara tentang berfilsafat, kita tidak bisa mengabaikan ruang dan waktu. Namun, kita tidak bisa bersikap adil terhadap waktu. Kita berfilsafat, maka kita harus mengabaikan waktu lainnya seperti waktu tidur, waktu berbicara, waktu makan untuk kita gunakan sebagai waktu berfilsafat. Kita tidak melakukan kesalahan karena kita melakukannya untuk kebaikan lain yang lebih bermanfaat bagi kita.
Dalam hidup, kita sering menemukan orang-orang yang menganggap dirinya orang suci. Bahkan ada yang mengaku-aku sebagai Tuhan. Orang seperti itu adalah orang yang sudah merasa menyatu dengan Tuhan namun pikirannya masih berjalan. Akibatnya dia tidak bisa mengendalikan diri dan menjadi sombong. Dia merasa sudah menjadi orang yang apling tinggi. Oleh sebab itu, perlulah kita berusaha menjadi orang bijaksana. Agar kita tidak berpikir yang melenceng dan membahayakan. Memang tidak ada yang bisa bijaksana kecuali Tuhan dan juga utusanNya. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa bijaksana. Banyak definisi mengenai orang bijaksana. Tergantung dari ruang dan waktunya kita berbicara. Menurut orang timur, bijaksana adalah orang yang berilmu dan bisa menereapkan ilmu, rasa dan karsa ayng dai miliki. Sedang menurut orang barat, bijaksana adalah orang yang mencari ilmu. Memang tidak ada definisi pasti tentang orang bijaksana. Tapi kita bisa banyak belajar dari dua definisi itu agar bisa menjadikan diri kita orang yang lebih bijaksana.
Lalu seperti apakah orang bijaksana dalam dunia kita (dunia pendidikan)? Salah satu contoh yang nyata adalah guru yang tidak mengajarkan matematika kepada siswa, namun memfasilitasi siswa untuk mempelajari matematikanya sendiri. Siswa diberi kemerdekaan yang beraturan agar mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari.
Belajar filsafat memang tidak hanya dari buku dan teori saja. Namun banyak fenomena dan kejadian dalam dunia kita yang bisa kita jadikan bahan belajar filsafat dan bagaimana mengembangkannya.

1 comment: