(kuliah oleh Bapak Marsigit)
19052011
Dunia ini berisi dengan hal yang berpasangan. Tidak dipungkiri semua hal yang ada pasti memiliki pasangan ataupun lawannya. Ada laki-laki, dan ada perempuan. Ada besar,ada kecil. Ada gelap, ada terang. Begitu juga jika kita membahas mengenai filsafat. Akan kita temukan banyak hal yang berkebalikan. Dari segi ontologi, kita kenal ada-tidak ada, intensif-tidak intensif, ekstensif-tidak ekstensif. Dalam epistimologi, kita mengetahui ada sumber-tidak ada sumber dan juga benar-salah. Sedang secara aksiologi, kita belajar tentang baik-tidak baik serta etik-tidak etik. Selain itu, jika ketiga aspek itu digabungkan, kita juga akan mengetahui pasangan-pasangan yang ada dalam dunia filsafat seperti vital-fatal,subjek-predikat,bejo-ciloko,logos-mitos, subjektif-objektif dan yang lalu-sekarang-masa mendatang. Apa yang disebutkan di atas merupakan hal-hal yang sering kita lakukan,rasakan dan temukan dalam kehidupan kita.
Hal itu ternyata juga kita temukan di dalam filsafat. Mengapa bisa? Karena dunia ini sebenarnya adalah filsafat. Dan filsafat merupakan pikiranku. Oleh sebab itu filsafat itu kontekstual, alami tergantung dari pikiran kita. Selain itu, filsafat juga bersifat komunikatif karena kita berusaha mengungkapkan filsafat kita. Di satu sisi, filsafat juga saling memahami, karena di sini kita belajar menerima dan mempelajari filsafat orang lain yang berbeda dengan pandangan kita. Karena filsafat sungguh beranekaragam dan subjektif, tentunya kita harus mampu mengembangkan filsafat kita.
Dalam pendidikan matematika, kita juga belajar mengenai filsafatnya. Kita tidak bisa melulu berpatokan pada filsafat pendidikan matematika saja, namun kita juga perlu menggabungkannya dengan filsafat umum agar kita bisa menyeimbangkan semua aspek. Dengan penggabungan itu akhirnya akan terbentuk penerapan dari filsafat. Penerapan itu ada dalam pikiran kita.
Filsafat tentunya membuat kita berpandangan berbeda akan hubungan masa lalu,sekarang dan masa depan. Sebagian dari kita menyakini bahwa masa sekarang dan masa depan itu sangat dipengaruhi oleh masa lalu, namun tidak sedikit orang yaitu kaum foundationalism menganggap masa lalu tidaklah penting.
Kadang kita juga sering bertanya-tanya tentang perbedaan dari vital dan fatal. Tapi sejujurnya dalam pikiran kitapun, kita tidak dapat membedakan fatal dan vital secara pasti. Keduanya hanya bisa kita jalani, kita mengerti dan kita beri contoh dan dengan menjalaninya itu akhirnya kita akan mengerti apa itu fatal dan mana yang vital. Keduanya hanya dibatasi oleh pikiran kita. Filsafat tidak lepas dari pengada,ada dan mengada. Ada adalah orang yang berusaha,sedang pengada adalah produk dari usaha mengadakan dan mengada adalah usaha untuk mengadakan dari si ada. Maka, perlulah kita menggabungkan fatal dan vital sebagai usaha kita untuk mencapai ap ayang kita inginkan.
Berlanjut ke pembahasan bagaimana kita kadang bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak ketahui. Mungkin orang lain tidak akan percaya dengan kita, namun itulah kenyataannya. Kita ternyata harus bisa melakukan interaksi yang baik dengan alam dan doa dalam bentuk normatif, formal, material dan spiritual sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Ternyata ada beberapa pengalaman yang seharusnya tidak perlu kita ceritakan kepada orang lain. Jadi seperti rahasia yang memang tak perlu diungkap penjelasannya. Jika kita ceritakan maka akan membuat hal itu bukan lagi menjadi pengalaman kita namun hanya sekedar cerita.
Agama dan budaya adalah pembicaraan yang selalu saja menarik untuk diikuti. Agama selalu dihubungkan dengan budaya karena agama merupakan penghubung kita dengan Tuhan, dan juga mengajari kita bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia. Dengan pedoman itulah,kita dapat mengembangkan budaya. Budaya yang digunakan sebagai penghubung komunikasi antar manusia dan juga sebagai penghantar ajaran-ajaran agama. Tapi bagi orang kafir, budaya dijadikan sebagai alat untuk mencari agama, lalu lama-lama mereka membuat perubahan-perubahan prinsip yang tidak masuk akal. Itulah orang yang hanya berpikirkan secara parsial dan tidak memahami separu dunia yang lain.
Hidup kadang tidak semulus yang kita harapkan. Manusia sering mengalami permasalahan yang kadang membuat kita bingung, dan akhirnya memunculkan solusi yang tidak sesuai dengan nurani kita. Kita menjadi serba salah dengan semua yang kita tentukan itu. Inilah salah satu tanda bahwa kita belum mampu sopan dengan ruang waktu. Dan ini juga merupakan salah satu contoh penyakit masyarakat. Banyak penyakit masyarakat dari berbagai dimensi komunikasi. Misalnya dalam segi spiritual adalah orang yang bermasalah dengan doa. Di konteks formal misalnya orang yang memiliki track record tidak bagus. Sedang untuk dimensi normatif, dia bermasalah dengan unggah ungguhnya yang tidak sesuai dengan masyarakat setempat.
Hidup, memang kadang tidak seindah yang kita inginkan. Kita ingin selalu mendapat keberuntungan. Pertanyaannya kapan sih orang disebut beruntung? Ini pertanyaan yang amat subjektif. Tidak ada yang bisa memberikan kualifikasi tertentu. Setiap orang menggelar dimensi tersendiri mengenai keberuntungannya. Beruntung menurut orang biasa dengan menurut manusia biasa berbeda. Begitu juga menurut orang suci dan nabi juga berbeda.
Ternyata banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini. Apa yang di pikiran kita ternyata belum mampu menjelaskan semua yang ada di dunia ini. Dunia yang penuh dengan bermacam-macam hal yang saling berpasangan. Tidak mudah memang menjadi orang yang tahu, namun tidak baik juga jika kita menjadi orang yang tidak peduli. Yang terpenting adalah mau belajar tentang dunia yang penuh dengan keberagaman ini.
No comments:
Post a Comment