Kuliah oleh Bapak Marsigit
Selama kuliah filsafat satu semester ini, banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan. Saya tidak hanya belajar ilmu filsafat, namun juga belajar tentang sopan santun dan sikap dalam berfilsafat. Awalnya terasa berat membaca elegi dan memahaminya. Namun lama-lama, ada suatu kenyamanan tersendiri mempelajarinya. Yang saya tangkap, di perkuliahan ini bukan hanya menekankan pada materi filsafat saja, namun diberi dulu bekal rohani agar kita tidak menyimpang. Selain itu di sini kita diuji untuk bisa bersikap bijaksana. Kita belajar menjadi orang rajin, ikhlas dan juga cermat. Karena lewat komentar itu, nantinya akan terlihat siapa yang benar-benar mau belajar dan siapa yang hanya mengejar kuantitas komentar.
Selama ini yang sering menjadi permasalahan adalah mengenai kualitas komentar kita. Sering kita berkomentar,namun kurang memikirkan konteks komentar kita, kurang memperhatikan apakh sesuai dengan tema yang dibahas, kurang memperhatikan tata bahasa sehingga akhirnya kita sering mempost komentar yang tidak pas dan jauh dari pemikiran kita. Akibatnya tidak semua orang bisa mencerna komentar kita. Di sinilah perlunya kita berpikir kembali dan benar-benar harus mempertimbangkan apa yang akan kita sampaikan di komentar itu.
Sebenarnya komentar kita itu adalah filsafat kita,jadi perlu kita pahami benar semua perkataan kita. Karena berfilsafat itu tidak sekedar berbicara, maka kita perlu memperhatikan beberapa hal. Di antaranya kita harus tahu bahwa berfilsafat itu membicarakan tentang hakekat. Jadi saat kita berkomentar, kita perlu menjelaskan inti atau makna dari elegi tersebut. Berbicara hakekat tentunya perlu referensi-referensi. Dan tidak salahnya kita mempelajarai komentar sebelum kita, siapa tahu bisa memunculkan ide-ide berfilsafat kita. Selain itu, kita harus mempehatikan atitude kita. Saat berfilsafat,kita harus bersikap sopan dengan mengetahui keberadaan kita. Ingat! Kita terikat dengan ruang dan waktu tertentu dan pastinya kita tidak bisa seenaknya menerjang aturan-aturan yang ada dalam kondisi itu. Kita juga dibatasi oleh kepentingan dan pendapat orang lain. Namun sering tanpa sadar kita sombong dan marah. Kita sering berbicara tidak sesuai dengan kapasitas kita. Kita juga merasa terbatasi oleh filsafat orang lain yang berbeda dengan kita. Itulah berfilsafat, kita tidak bisa bersikap adil secara sempurna. Kita hanya bisa mereduksi mana yang akan kita kerjakan, mana yang tidak. Memang kadang kita sering berbicara tidak sesuai dengan kapasitas kita, tapi bukan berarti kita salah. Kita hanya perlu sikap berani dan mau mencoba. Memang harus ada perjuangan agar perkataan dan tulisan kita lama-lama diakui oelh orang lain. Dari semua yang kita tulis ataupun ucapkan,nantinya akan memunculkan banyak pandangan dan komentar yang berbeda. Ada yang pro, namun ada juga yang kontra. Akan ada dampak dan juga resiko yang kita terima, baik itu baik ataupun buruk. Nah, yan terpenting adalah bagaimana kita memanage semua kemungkinan yang akan kita terima itu. Tidak mudah memang menerima kitik atau perbedaan pendapat dengan pihak lain. Tapi itulah yang harus kita hadapi. Jika kita mampu memanage semuanya dengan baik,akhirnya juga akan menguntungkan kita. Mungkin ada pihak yang akan menyeberang dari kita, maka kita harus lapang dada menerimanya. Itulah nikmatnya berilsafat. Memang tidak ada yang benar dan yang salah, yang harus diperhatikan adalah bersikap sopan.
Dalam filsafat pendidikan matematika, kita banyak membahas tentang hakekat matematika sekolah yang harusnya kita kembangkan. Objek dari matematika realistik adalah untaian atau proses dari pembelajaran matematika itu sendiri. Di sini juga lebih menekankan pada konstruksi selama pembelajaran. Dengan belajar filsafat pendidikan matematika ini, petutnya kita bisa menerapkannya di sekolah. Karena filsfat ini,meliputi beberapa aspek seperti pembuatan RPP dan juga penciptaan pembelajaran yang inovatif dan menarik. Tujuan dari pembelajaran matematika di sekolah bukanlah siswa dengan kemampuan menghafal rumus matematika, bukan pula siswa yang paham matematika yang diberikan oleh gurunya. Namun hakikinya, bisa mencapai keadaan bahwa siswa itu sendiri sebagai matematika. Peneliti matematika bukanlah melulu orang yang sudah belajar matematika sampai tingkat atas dan dia memahami semuanya. Anak kecil pun bisa disebut researcher, namun memang terbatas di dimensinya dan di dunianya.
Selama satu semester ini,saya belajar banyak akan filsafat pendidikan matematika dengan berbagai fasilitas yang diberikan. Saya mengucapkan terima kasih dna mohon maaf jika selama belajar ini masih belum bisa berfilsafat dengan baik. Inilah proses saya dan saya berharap selalu ada perbaikan dari waktu ke waktu. Mohon bimbingannya..
No comments:
Post a Comment